GUW9BUMoGfCiGfd6TfOpTUziTY==

Universitas Terbuka Perkuat Kompetensi Guru Geografi Indramayu melalui Pelatihan Drone Mapping dan Analisis Mangrove

Universitas Terbuka Tingkatkan Kompetensi Guru Geografi Indramayu lewat Pelatihan Drone Mapping dan Kajian Mangrove

Portal Demokrasi, Indramayu, 22 Mei 2026 — Universitas Terbuka melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dengan menggandeng guru-guru geografi Kabupaten Indramayu dalam pelatihan bertema “Peningkatan Kompetensi Guru Geografi Indramayu melalui Praktik Drone for Mapping dan Teknik Analisis Vegetasi Mangrove.” Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas guru dalam menghadirkan pembelajaran geografi yang lebih inovatif, kontekstual, dan berdampak bagi peserta didik.

Pelatihan tersebut berlangsung selama dua hari, dengan jadwal kegiatan setiap hari dimulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Sebanyak 21 guru geografi mengikuti kegiatan ini secara aktif. Pada hari pertama, pelatihan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Indramayu sebagai salah satu pusat kegiatan pendidikan di Kabupaten Indramayu. Sementara itu, pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan di kawasan mangrove Kedung Coet, Desa Cemara, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari Universitas Terbuka, yaitu Dr. Sodikin dari Magister Studi Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Terbuka, serta Mirza Permana, S.T., M.Si. dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka. Keduanya membawakan materi yang menggabungkan pemahaman konseptual dengan praktik langsung di lapangan.

Pada sesi hari pertama, peserta mendapatkan materi mengenai pemanfaatan drone for mapping dalam pembelajaran geografi. Para guru diperkenalkan pada fungsi drone sebagai alat bantu pemetaan, dokumentasi wilayah, pengamatan lingkungan, dan pengumpulan data spasial. Materi ini sangat relevan dengan pembelajaran geografi di SMA, terutama pada topik pemetaan, penginderaan jauh, sistem informasi geografis, perubahan penggunaan lahan, serta kajian wilayah.

Tidak hanya menerima paparan teori, para peserta juga berkesempatan melakukan praktik langsung penggunaan drone. Mereka belajar memahami prosedur penerbangan, teknik pengambilan foto udara, serta pemanfaatan hasil dokumentasi drone sebagai sumber data pembelajaran. Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada pengolahan data hasil drone menggunakan perangkat lunak khusus untuk mengolah foto udara menjadi informasi yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Antusiasme peserta tampak dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi berlangsung. Para guru juga menunjukkan ketertarikan yang tinggi saat mencoba menerbangkan drone dan memahami alur pengolahan data hasil pemotretan udara. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi geospasial memiliki daya tarik besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari strategi pembelajaran geografi yang lebih menarik dan dekat dengan perkembangan zaman.

Kegiatan hari pertama turut dihadiri oleh pengawas sekolah, Drs. Heru Subandono,M.Pd  serta Ketua MGMP Geografi Kabupaten Indramayu, Asep Andri Astiyandi, M.Pd. Dalam sambutannya keduanya menyampaikan apresiasi kepada Universitas Terbuka yang telah menjadikan MGMP Geografi Indramayu sebagai mitra kerja sama dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Ia juga berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut melalui program-program peningkatan kompetensi guru pada masa mendatang.

Memasuki hari kedua, pelatihan berlanjut dengan fokus pada teknik analisis vegetasi mangrove. Kegiatan ini dilaksanakan secara langsung di kawasan Kedung Coet, Desa Cemara, Kecamatan Cantigi. Untuk menuju lokasi observasi, peserta bersama tim pengabdian masyarakat Universitas Terbuka menempuh perjalanan menggunakan perahu selama kurang lebih satu setengah jam. Perjalanan ini memberikan pengalaman tersendiri bagi peserta karena mereka dapat mengamati langsung kondisi lingkungan pesisir Indramayu.

Sesampainya di lokasi, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok besar. Setiap kelompok mengikuti pembelajaran lapangan secara bergiliran di tiga pos yang telah disiapkan. Pada pos pertama, peserta mendapatkan pengenalan mengenai jenis-jenis vegetasi mangrove yang ditemukan di wilayah studi. Pengenalan ini menjadi dasar penting bagi guru untuk memahami keanekaragaman hayati ekosistem pesisir dan peran mangrove dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Pada pos kedua, peserta melaksanakan praktik pengukuran vegetasi mangrove menggunakan metode transek line. Melalui kegiatan ini, guru memperoleh pengalaman dalam melakukan observasi lapangan, mencatat data, mengukur vegetasi, serta memahami teknik analisis sederhana yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran maupun proyek siswa di sekolah.

Sementara itu, pada pos ketiga, peserta memperoleh materi praktik penggunaan waterpass dalam penelitian mangrove. Penggunaan alat ukur ini memperkaya wawasan peserta mengenai teknik pengukuran kondisi fisik lingkungan. Keterampilan tersebut dapat digunakan untuk membantu siswa memahami hubungan antara kondisi lahan, vegetasi, ekosistem pesisir, dan aktivitas manusia di wilayah sekitar.

Pelatihan ini memiliki nilai penting karena tidak hanya meningkatkan kompetensi profesional guru, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya pembelajaran geografi yang berdampak. Melalui materi drone mapping, guru dapat mengajak siswa memahami konsep ruang dan wilayah dengan bantuan visualisasi nyata. Siswa dapat melihat kondisi lingkungan sekitar melalui foto udara, mengidentifikasi pola penggunaan lahan, serta menganalisis perubahan wilayah secara lebih konkret.

Sementara itu, materi analisis vegetasi mangrove dapat mendorong guru untuk mengembangkan pembelajaran berbasis lingkungan lokal. Siswa tidak hanya belajar tentang ekosistem pesisir dari buku, tetapi juga dapat diarahkan untuk melakukan observasi, mengenali jenis vegetasi, memahami fungsi mangrove, serta mendiskusikan isu-isu lingkungan seperti abrasi, konservasi, dan keberlanjutan kawasan pesisir.

Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran geografi menjadi lebih bermakna karena menghubungkan teori dengan kehidupan nyata. Guru dapat mengembangkan kegiatan belajar berbasis proyek, studi lapangan, penelitian sederhana, maupun bahan ajar berbasis potensi lokal Indramayu. Hal ini sejalan dengan kebutuhan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, literasi teknologi, kepedulian lingkungan, dan kemampuan memecahkan masalah.

Dampak dari kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan guru saja, tetapi juga dapat dirasakan langsung oleh siswa di sekolah. Guru yang mengikuti pelatihan diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi drone dan kajian mangrove ke dalam proses pembelajaran, sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih aktif, visual, dan aplikatif.

Selain itu, kegiatan ini juga dapat memperkuat kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga lingkungan pesisir. Indramayu sebagai wilayah yang memiliki kawasan pantai dan ekosistem mangrove membutuhkan generasi muda yang memahami kondisi lingkungannya serta memiliki kepedulian terhadap pelestarian alam. Melalui pembelajaran geografi yang berbasis pada kondisi lokal, siswa dapat lebih mudah memahami permasalahan lingkungan di sekitarnya dan terdorong untuk ikut berperan dalam menjaga keberlanjutan wilayah.

Melalui kegiatan ini, Universitas Terbuka menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan, khususnya melalui pemberdayaan guru dan penguatan pembelajaran berbasis pengalaman. Kolaborasi antara Universitas Terbuka dan MGMP Geografi Indramayu diharapkan dapat terus berlanjut, sehingga semakin banyak guru memperoleh akses terhadap pelatihan yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan pembelajaran di sekolah.

 

Type above and press Enter to search.