GUW9BUMoGfCiGfd6TfOpTUziTY==

Dari Aceh ke Bali: Membangun Jembatan Pengetahuan Nusantara

Ilustrasi: Munawir / AI-Generated (ChatGPT)

Oleh: Dr. Munawir, S.Pd.I., S.Kom., M.M..
Dosen Universitas Bali Internasional Muhammadiyah & Editor Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara (JPMN)

Portal Demorasi, Opini - Enam tahun lalu, saya membuat keputusan yang mengubah hidup: meninggalkan Aceh, tanah kelahiran saya, untuk mengajar di Institut Muhammadiyah Bali. Banyak yang bertanya: mengapa Bali? Bukankah sebagai dosen di kampus Muhammadiyah, saya akan lebih "nyaman" di wilayah dengan mayoritas Muslim?

Jawaban saya sederhana: justru karena berbeda, maka di sana ada ruang untuk belajar yang tidak akan saya temukan di tempat lain.

Dan saya tidak salah. Enam tahun mengajar di Bali — sebuah pulau dengan konteks sosial, budaya, dan religius yang sangat berbeda dari Aceh — telah membuka mata saya tentang banyak hal. Salah satunya adalah tentang bagaimana pengetahuan seharusnya berpindah, berbagi, dan tumbuh melintasi batas-batas geografis dan kultural.

Dan dalam perjalanan itu, saya tidak hanya belajar memilih tempat yang tepat untuk berbagi pengetahuan — saya juga akhirnya terlibat dalam membangun salah satu jembatan pengetahuan itu sendiri.

Ketika Pengalaman Aceh Bertemu Realitas Bali

Sebagai dosen manajemen, sebagian besar riset dan pengabdian saya berkaitan dengan pengelolaan organisasi — baik itu lembaga pendidikan, UMKM, maupun organisasi kemasyarakatan. Ketika saya masih di Aceh, saya banyak mendampingi pengusaha kecil di sektor kerajinan dan kuliner khas Aceh. Ketika pindah ke Bali, saya mulai bekerja dengan pelaku UMKM di sektor pariwisata dan kerajinan lokal.

Konteksnya sangat berbeda. Di Aceh, tantangan utama sering kali berkaitan dengan akses modal dan pemulihan pasca-konflik. Di Bali, tantangannya lebih kepada persaingan pasar yang sangat ketat dan ketergantungan pada sektor pariwisata yang fluktuatif — terutama pasca-pandemi.

Tetapi ada satu hal yang sama: baik di Aceh maupun di Bali, pelaku UMKM membutuhkan pendampingan manajemen yang praktis, bukan teori yang muluk-muluk. Mereka butuh cara sederhana untuk mengelola keuangan, memasarkan produk, dan membangun tim kerja yang solid.

Dan ketika saya mulai mendokumentasikan pengalaman pendampingan saya di Bali, saya bertanya: di mana saya harus mempublikasikan ini agar bisa dibaca oleh dosen dan praktisi lain yang menghadapi tantangan serupa?

Dilema yang Familiar bagi Dosen Kampus Swasta

Mari saya jujur: sebagai dosen di kampus swasta dengan anggaran terbatas, saya tidak punya privilege yang dimiliki rekan-rekan di universitas negeri besar. Tidak ada dana institusi yang bisa saya gunakan untuk membayar APC jurnal internasional sebesar Rp 10-20 juta. Tidak ada akses perpustakaan digital yang lengkap. Tidak ada jaringan kolega internasional yang bisa membantu proses submit ke jurnal Scopus.

Yang saya punya adalah: pengalaman lapangan yang kaya, data yang valid, dan komitmen untuk berbagi pengetahuan. Pertanyaannya: apakah itu cukup?

Selama beberapa tahun pertama, saya mencoba mengirim artikel ke jurnal-jurnal bergengsi. Hasilnya? Penolakan demi penolakan. Bukan karena riset saya buruk, tetapi karena fokus saya pada konteks lokal yang sangat spesifik dianggap "kurang menarik" untuk audiens internasional. Saya diminta untuk "menggeneralisasi temuan" — yang artinya menghilangkan justru kekuatan terbesar dari riset saya: kedalaman konteks lokal.

Lalu saya mulai bertanya: apakah saya harus mengubah fokus riset saya hanya untuk bisa publikasi di jurnal bergengsi? Atau ada cara lain yang lebih masuk akal?

Menemukan Rumah, Lalu Membangunnya Bersama

Titik balik terjadi ketika seorang senior menyarankan saya untuk mencoba jurnal-jurnal pengabdian masyarakat nasional yang fokus pada konteks Nusantara. Salah satunya adalah Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara atau JPMN — sebuah jurnal yang waktu itu masih SINTA 5 dan baru beberapa tahun berjalan.

Awalnya saya skeptis. Saya berpikir: apakah publikasi di jurnal SINTA 5 akan cukup untuk kenaikan jabatan saya? Apakah tidak akan dianggap remeh oleh rekan-rekan di kampus lain?

Tetapi karena tenggat pelaporan hibah semakin dekat, saya memutuskan untuk mencoba. Saya mengirim artikel tentang strategi manajemen UMKM berbasis kearifan lokal Bali. Dan yang terjadi selanjutnya mengubah perspektif saya tentang publikasi ilmiah.

Proses review sangat konstruktif. Editor dan reviewer tidak hanya menilai, tetapi benar-benar membantu saya memperbaiki artikel. Mereka memahami konteks yang saya teliti. Mereka tidak meminta saya menghilangkan nuansa lokal, justru membantu saya memperkuatnya dengan analisis yang lebih tajam.

Waktu review sangat masuk akal — sekitar 2,5 bulan dari submit hingga accepted. Biaya publikasi sangat terjangkau. Dan yang paling penting: artikel saya terbit tepat waktu untuk memenuhi kewajiban luaran hibah.

Pengalaman positif itu membuat saya semakin tertarik dengan bagaimana jurnal ini dikelola. Ketika tim editorial JPMN membuka kesempatan untuk bergabung sebagai editor, saya tidak ragu untuk mendaftar. Dan sejak dua tahun terakhir, saya mendapat privilege untuk tidak hanya menulis di jurnal ini, tetapi juga membangun dan mengembangkannya bersama tim editorial lainnya.

Dari Penulis Menjadi Editor: Melihat dari Dalam

Menjadi editor mengajarkan saya banyak hal yang tidak pernah saya pahami sebagai penulis. Saya melihat betapa kerasnya kerja tim editorial untuk menjaga standar kualitas sambil tetap memberikan kesempatan kepada penulis pemula. Saya melihat betapa sulitnya mencari reviewer yang berkualitas dan bersedia memberikan feedback konstruktif tanpa bayaran yang memadai. Saya melihat betapa banyak artikel yang ditolak bukan karena idenya buruk, tetapi karena penulisannya tidak memenuhi standar akademik dasar.

Tetapi saya juga melihat sesuatu yang sangat indah: bagaimana sebuah artikel yang awalnya kasar, dengan bimbingan editorial yang sabar, bisa berubah menjadi kontribusi pengetahuan yang berharga. Bagaimana seorang mahasiswa KKN yang awalnya ragu, setelah melalui proses review yang konstruktif, akhirnya berhasil mempublikasikan pengalaman lapangannya yang sangat berharga.

Inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan kerja editorial: ia bukan hanya soal menjaga gerbang (gatekeeping), tetapi juga soal membuka pintu dan membimbing orang untuk masuk dengan cara yang benar. 

Ketika SINTA 5 Naik Menjadi SINTA 4: Buah dari Kerja Keras Kolektif

Tahun lalu, JPMN naik akreditasi dari SINTA 5 menjadi SINTA 4. Bagi saya yang terlibat langsung dalam proses editorial, ini bukan sekadar perubahan angka. Ini adalah hasil dari kerja keras kolektif seluruh tim editorial, reviewer, dan penulis yang telah mempercayai jurnal ini.

Kenaikan akreditasi itu dicapai melalui perbaikan sistematis: penguatan proses peer-review dengan melibatkan reviewer dari berbagai institusi, peningkatan konsistensi penerbitan tepat waktu, perbaikan tampilan dan navigasi website, penambahan metadata yang lebih lengkap di setiap artikel, dan yang terpenting — komitmen untuk tidak pernah menurunkan standar kualitas meskipun tekanan untuk menerbitkan lebih banyak artikel sangat besar.

Sebagai editor, saya bangga dengan pencapaian ini. Tetapi saya juga sadar bahwa ini baru permulaan. SINTA 4 adalah milestone penting, tetapi bukan tujuan akhir. Target kami berikutnya adalah masuk ke DOAJ (Directory of Open Access Journals) dan terus meningkatkan visibilitas internasional tanpa kehilangan fokus pada konteks Nusantara.

Kenaikan akreditasi JPMN juga membuktikan sesuatu yang sangat penting: bahwa jurnal nasional yang dikelola dengan serius, dengan standar editorial yang ketat, dan dengan komitmen pada kualitas, bisa tumbuh dan diakui. Jurnal-jurnal nasional bukan "jurnal kelas dua" yang stagnan. Mereka adalah organisme yang hidup, yang terus berkembang, yang terus memperbaiki diri.

Pelajaran dari Ruang Editorial: Apa yang Membuat Artikel Berkualitas?

Sebagai editor, saya sering ditanya oleh dosen-dosen muda: "Pak, apa yang paling sering membuat artikel ditolak? Dan apa yang membuat artikel diterima dengan baik?"

Dari ratusan naskah yang saya tangani, saya menemukan pola yang konsisten.

Artikel yang ditolak biasanya memiliki satu atau lebih masalah ini: tidak ada kerangka teori yang jelas, metodologi tidak dijelaskan dengan rinci, tidak ada refleksi kritis (hanya melaporkan "keberhasilan" tanpa mengakui keterbatasan), tidak ada referensi yang memadai, dan bahasa penulisan yang tidak akademis.

Sebaliknya, artikel yang diterima dengan baik biasanya memiliki karakteristik ini: konteks lokal yang dijelaskan dengan detail, metodologi yang transparan, kejujuran dalam melaporkan hambatan dan kegagalan (bukan hanya keberhasilan), analisis yang tajam tentang "mengapa" sesuatu berhasil atau gagal, dan referensi yang menunjukkan bahwa penulis telah membaca literatur yang relevan.

Kabar baiknya: semua masalah di artikel yang ditolak bisa diperbaiki dengan bimbingan yang tepat. Dan itulah mengapa proses review di JPMN — dan jurnal-jurnal nasional berkualitas lainnya — sangat penting. Kami tidak hanya menolak atau menerima. Kami membimbing.

Rekomendasi Jurnal: Ekosistem yang Beragam dan Saling Melengkapi

Sebagai editor JPMN, saya sering ditanya: "Pak, kalau artikel saya tidak cocok untuk JPMN, ke mana saya harus kirim?"

Ini pertanyaan yang sangat baik — dan menunjukkan pemahaman yang matang bahwa tidak semua artikel cocok untuk semua jurnal. Setiap jurnal punya fokus, standar, dan audiens yang sedikit berbeda.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai penulis dan editor, berikut rekomendasi yang saya berikan:

Untuk artikel pengabdian masyarakat dengan fokus pada konteks Nusantara yang beragam, dengan metodologi yang kuat dan analisis mendalam, JPMN (SINTA 4) adalah pilihan yang sangat tepat. Kami menghargai keberagaman konteks lokal dan memberikan ruang bagi artikel yang panjang dan detail.

Untuk artikel pengabdian dengan fokus pada inovasi sosial dan pemberdayaan komunitas, AJAD: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (SINTA 4) adalah pilihan yang sangat baik. Mereka punya jaringan distribusi yang luas dan proses editorial yang sangat profesional.

Untuk artikel pengabdian yang lebih ringkas dan praktis, dengan fokus pada replikasi program, Jurnal Pengabdian Nasional atau JPN Indonesia (SINTA 5) menawarkan fleksibilitas jadwal terbit tiga kali setahun dan sudah punya basis sitasi yang kuat (lebih dari 1.100 sitasi di Google Scholar).

Untuk artikel dari mahasiswa KKN atau dosen muda yang baru pertama kali publikasi, PASAI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (SINTA 5) dan KJPKM Kawanad: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (SINTA 5) menawarkan proses review yang sangat konstruktif dan ramah bagi penulis pemula.

Saya tidak melihat jurnal-jurnal ini sebagai kompetitor JPMN, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang sama. Kami saling belajar, saling berbagi best practices, dan kadang-kadang bahkan saling merekomendasikan reviewer. Karena pada akhirnya, tujuan kami semua sama: membangun infrastruktur pengetahuan nasional yang kuat, aksesibel, dan berkualitas.

Visi Muhammadiyah dan Tanggung Jawab Intelektual

Sebagai dosen di kampus Muhammadiyah dan editor jurnal yang banyak melayani penulis dari berbagai latar belakang — termasuk banyak dosen dari kampus-kampus Muhammadiyah di seluruh Indonesia — saya tidak bisa tidak melihat kesesuaian antara kerja editorial ini dengan visi Muhammadiyah: mencerahkan dan memberdayakan masyarakat.

Setiap artikel yang kami terbitkan di JPMN adalah kontribusi pada pencerahan kolektif. Setiap penulis pemula yang kami bimbing adalah investasi pada generasi intelektual masa depan. Setiap proses review yang konstruktif adalah bentuk pemberdayaan akademik.

Muhammadiyah sejak awal didirikan dengan semangat untuk membawa perubahan sosial yang nyata — bukan hanya melalui dakwah, tetapi juga melalui pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Dan untuk melakukan itu, kita membutuhkan pengetahuan yang terdokumentasi dengan baik, yang bisa direplikasi, dan yang bisa diakses oleh siapapun yang membutuhkannya.

JPMN dan jurnal-jurnal pengabdian masyarakat nasional lainnya menyediakan ruang untuk itu. Kami bukan jurnal yang hanya melayani kepentingan akademisi untuk mengejar angka kredit. Kami adalah media diseminasi pengetahuan praktis untuk pemberdayaan masyarakat.

Ajakan untuk Dosen Muda dan Mahasiswa

Kepada rekan-rekan dosen muda dan mahasiswa yang sedang mempertimbangkan untuk publikasi: jangan takut untuk mencoba jurnal nasional seperti JPMN, AJAD, JPN Indonesia, PASAI, atau KJPKM Kawanad.

Kami di sini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membimbing. Kami memahami bahwa tidak semua orang punya pengalaman menulis artikel akademik. Kami memahami bahwa konteks lokal yang Anda teliti mungkin tidak menarik untuk jurnal internasional, tetapi sangat berharga untuk komunitas nasional.

Yang kami butuhkan dari Anda adalah: kejujuran dalam melaporkan data, keterbukaan untuk menerima kritik konstruktif, dan komitmen untuk terus belajar.

Jika Anda punya itu, kami akan dengan senang hati membantu Anda mengubah pengalaman lapangan menjadi kontribusi pengetahuan yang bermakna.

Dan saya bisa menjamin: proses itu sendiri — dari menulis draft pertama, menerima review, merevisi, hingga akhirnya melihat artikel Anda terbit dengan DOI yang permanen — adalah pembelajaran yang tidak akan Anda dapatkan di tempat lain.

Dari Aceh ke Bali ke Nusantara: Pengetahuan Tanpa Batas

Enam tahun di Bali telah mengajarkan saya bahwa pengetahuan tidak mengenal batas geografis, kultural, atau religius. Pengetahuan mengalir ke mana pun ada orang yang bersedia belajar dan berbagi.

Dan jurnal-jurnal nasional seperti JPMN adalah salah satu saluran penting untuk aliran itu. Bukan karena kami sempurna — masih banyak yang harus kami perbaiki. Tetapi karena kami berkomitmen untuk terus tumbuh, terus belajar, dan terus membuka pintu bagi siapapun yang punya pengetahuan berharga untuk dibagikan.

Ketika saya pertama kali menulis di JPMN sebagai penulis, saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari saya akan menjadi bagian dari tim yang membangun jurnal ini. Tetapi itulah keindahan dari ekosistem pengetahuan yang sehat: ia tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga mengundang Anda untuk berkontribusi membangun.

Dari Aceh ke Bali, dari Bali ke seluruh Nusantara — mari kita bangun jembatan-jembatan pengetahuan yang kuat, aksesibel, dan bermakna.

Karena pada akhirnya, Nusantara ini dibangun bukan oleh segelintir profesor di universitas besar, tetapi oleh ribuan dosen, mahasiswa, dan praktisi yang bekerja keras di berbagai pelosok negeri, mendokumentasikan pengalaman mereka, dan berbagi pengetahuan untuk kebaikan bersama.

Dan saya bangga menjadi bagian dari perjalanan itu.

Penulis adalah dosen di Dosen Universitas Bali Internasional Muhammadiyah dan Editor Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara (JPMN). Fokus riset dan pengabdiannya meliputi manajemen pendidikan, manajemen organisasi, dan pemberdayaan UMKM. Sebelumnya mengajar di Aceh selama 8 tahun. Telah mempublikasikan lebih dari 15 artikel di berbagai jurnal nasional dan aktif dalam pengembangan ekosistem publikasi ilmiah nasional.

 

Type above and press Enter to search.