GUW9BUMoGfCiGfd6TfOpTUziTY==

Di Tengah Polemik Alumni LPDP, Mahasiswa Ph.D Mandiri di Malaysia Siapkan Riset untuk Indonesia

Dokumen Pribadi : Mahasiswa Ph.D Asia e University Malaysia, Victor Ekliopas Dominggus Palapessy, Haryanto,  Agung Putra Mulyana, Flora Grace Putrianti.

Portal Demokrasi, Jakarta
- Polemik mengenai nasionalisme diaspora Indonesia kembali mencuat setelah alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningsih, menjadi perbincangan publik akibat pernyataannya di media sosial. Dalam unggahannya, ia menyebut, cukup aku saja jadi WNI, anak-anakku jangan, merespons status anaknya yang telah menjadi warga negara Inggris.

Pernyataan tersebut memicu berbagai tanggapan, termasuk dari kalangan legislatif. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian, mengingatkan bahwa setiap penerima beasiswa LPDP memiliki kewajiban untuk memberikan kontribusi kepada bangsa.

Artinya, setiap penerima beasiswa terikat kontrak untuk kembali dan berkontribusi bagi Indonesia sesuai aturan yang disepakati, kata Lalu.

LPDP sendiri merupakan program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pembiayaan pendidikan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, dengan harapan penerima beasiswa dapat berperan dalam pembangunan nasional.

Perdebatan tersebut memunculkan pertanyaan publik tentang relasi antara pendidikan global, diaspora, dan nasionalisme. Namun di tengah polemik itu, sejumlah mahasiswa doktoral Indonesia di Asia e University, Malaysia, justru menunjukkan arah berbeda. Mereka menempuh studi doktoral secara mandiri, tanpa pembiayaan negara, dan tengah menyiapkan riset kolaboratif lintas disiplin yang ditujukan untuk mendukung pembangunan di Indonesia.

Para mahasiswa tersebut antara lain Agung Putra Mulyana dan Flora Grace Putrianti dari program Doctor of Philosophy in Social and Behavioral Science, Victor Ekliopas Dominggus Palapessy dari Doctor of Philosophy in Business Administration, serta Haryanto dari Doctor of Philosophy in Information and Communication Technology.

Salah satu mahasiswa doktoral, Agung Putra Mulyana, mengatakan bahwa pilihan kami menempuh pendidikan di luar negeri dengan biaya mandiri tetap dilandasi oleh orientasi kontribusi .

Kami berharap riset yang dilakukan dapat memberikan manfaat, khususnya dalam menjawab tantangan transformasi ekonomi dan digital di Indonesia, ujarnya di Jakarta, Minggu (22/2/2026).

Menurut dia, kolaborasi lintas bidang menjadi penting untuk menghasilkan rekomendasi yang komprehensif dan aplikatif.

Fenomena ini mencerminkan beragam dinamika diaspora Indonesia di luar negeri. Di satu sisi, polemik nasionalisme menjadi perhatian publik. Namun di sisi lain, terdapat mahasiswa Indonesia yang tetap berupaya menyiapkan kontribusi melalui pendidikan dan riset, meskipun tanpa dukungan pembiayaan negara.

Riset yang relevan dapat membantu merumuskan solusi konkret terhadap berbagai tantangan yang dihadapi negara, seperti transformasi di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan digitalisasi yang tengah berlangsung. Oleh karena itu, kolaborasi riset lintas disiplin ilmu sangat diperlukan untuk menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan tepat sasaran.

Di tengah meningkatnya mobilitas global, peran diaspora, baik yang dibiayai negara maupun mandiri, dinilai tetap memiliki posisi strategis dalam mendukung kemajuan Indonesia melalui transfer pengetahuan dan inovasi. Riset yang dilakukan oleh diaspora Indonesia, memiliki dampak positif yang dapat mempercepat tercapainya tujuan pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

 

 

Type above and press Enter to search.