GUW9BUMoGfCiGfd6TfOpTUziTY==

Mas Min Turun ke Sawah, Petani Desak Negara Hadir Nyata Jaga Ketahanan Pangan


Portal Demokrasi, Jakarta
- Lumpur masih basah ketika diskusi berlangsung di hamparan sawah yang baru dibajak, Selasa, 27 Januari 2026. Di tengah para petani, Nakaura Minsoo, yang akrab disapa Mas Min, berdiri tanpa jarak protokoler. Ia memilih mendengar langsung keluhan warga yang selama ini kerap terhenti di tingkat bawah.

Pria kelahiran Tangerang pada 2002 itu merupakan lulusan Master of Business Administration Universitas Tokyo. Tanpa pengawalan resmi, ia menyimak persoalan sambil mengamati langsung kondisi lahan yang menjadi sumber hidup petani.

Seorang petani menunjuk petak sawah di depannya. Cuaca yang semakin tak menentu serta harga pupuk yang terus merangkak naik membuat musim tanam penuh risiko.

“Sekarang tanam serba salah. Hujan telat, bibit mati. Kebanyakan hujan, sawah tenggelam. Tapi harga gabah tidak pernah ikut naik,” ujarnya.

Kelangkaan pupuk bersubsidi, irigasi yang rusak, hingga biaya produksi yang menekan keuntungan menjadi tema utama perbincangan. Para petani mengelilingi diskusi dengan pakaian berlumpur—tanda percakapan berlangsung di sela kerja.

Pertemuan berjalan hampir setengah jam tanpa seremoni. Tak ada panggung atau spanduk. Hanya ponsel warga yang merekam peristiwa itu.

Dari pematang sawah itulah persoalan besar ketahanan pangan nasional kembali tampak nyata.

Sejumlah pengamat lapangan menilai keluhan petani seharusnya menjadi alarm keras bagi Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan pemerintah daerah. Persoalan yang muncul dinilai struktural dan terus berulang tanpa penyelesaian tuntas.

Petani disebut sebagai pahlawan senyap pangan nasional—menanggung risiko gagal panen, bekerja dari subuh hingga senja, namun berada di posisi paling rentan dalam rantai ekonomi.

“Kalau biaya produksi terus naik dan harga hasil panen tidak dilindungi, krisis pangan tinggal menunggu waktu,” kata seorang warga yang ikut menyimak diskusi.

Dorongan pun menguat agar negara hadir lebih konkret melalui stabilisasi harga gabah, distribusi pupuk tepat sasaran, perbaikan irigasi, serta pendampingan teknis berkelanjutan.

Di tengah tekanan perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global, keberpihakan pada petani kecil dinilai bukan lagi pilihan kebijakan, melainkan keharusan strategis.

Pertemuan sederhana di sawah ini menjadi pengingat bahwa solusi pangan tak lahir dari ruang rapat ber-AC semata. Negara dituntut turun ke tanah yang sama—mendengar langsung, memahami nyata, dan bertindak cepat—agar petani tidak terus berjuang sendirian menjaga perut bangsa.

Type above and press Enter to search.