![]() |
| Dua women preneur, Karina Soeyono dan Catherine Claudia Oendoen. (Foto: Dok/Ist). |
Di balik Lost and Found berdiri dua women preneur, Karina Soeyono dan Catherine Claudia Oendoen. Perjalanan mereka dimulai pada 2017–2018 melalui jasa titip ke Thailand.
Saat itu, skalanya kecil. Targetnya sederhana. Bahkan mungkin belum terbayang akan berkembang menjadi bazaar besar dengan puluhan tenant. Namun dari langkah kecil itulah fondasi dibangun. Mereka memulai dari lingkar pertemanan. Dari percakapan personal. Dari menjaga kepercayaan satu per satu. Di titik inilah saya melihat bahwa bisnis perempuan seringkali lahir dari relational strength — kekuatan membangun hubungan dan merawat trust.
Pandemi menjadi fase yang menguji banyak pelaku usaha. Namun Lost and Found memilih untuk tidak berhenti. Mereka memperkuat kehadiran digital, memperbaiki sistem kurasi, dan membangun komunikasi yang lebih intens dengan pelanggan. Adaptasi ini bukan hanya soal bertahan, tetapi tentang naik kelas. Fase sulit tersebut justru membentuk karakter brand menjadi lebih matang dan resilient.
Memasuki 2023, Lost and Found tidak lagi dipandang sebagai sekadar tempat jual beli barang preloved. Ia berkembang menjadi curated platform dengan positioning yang jelas, memiliki taste, serta komunitas yang loyal. Desember 2024 menjadi momentum penting ketika bazaar pertama digelar di Lobi-Lobi SCBD. Bagi saya, ini bukan hanya event offline, tetapi simbol transformasi.
Dari online ke offline. Dari transaksi ke interaksi. Dari sekadar bisnis menjadi pengalaman. Kolaborasi pun terus diperluas, mulai dari gathering di Kopi Kalyan Wijaya hingga pop-up event di Mardin Baklava. Setiap kolaborasi memperkuat positioning Lost and Found sebagai lifestyle driven preloved movement — sebuah gerakan yang membangun budaya konsumsi yang lebih sadar.
Puncaknya terlihat pada Februari 2026 melalui “Ramadhan Sorea by Lost and Found” yang digelar di Bidakara A Point. Dengan 50 tenant terkurasi dan rangkaian aktivitas pendukung, event ini menunjukkan bahwa perempuan mampu membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan sekaligus berdampak. Yang menarik perhatian saya sebagai jurnalis adalah nilai yang mereka bawa.
Lost and Found tidak hanya berbicara tentang fashion preloved, tetapi juga tentang sustainability, mindful shopping, dan membuka ruang bagi brand kecil untuk bertumbuh. Ini bukan sekadar bisnis, ini adalah bisnis dengan value.
Bagi banyak perempuan, kisah ini adalah pengingat bahwa perjalanan besar seringkali dimulai dari langkah yang sederhana. Tidak harus langsung sempurna. Tidak harus langsung besar. Yang terpenting adalah berani memulai, konsisten menjaga kualitas, dan terbuka untuk berkolaborasi. Sebagaimana saya melihatnya, women preneur hari ini bukan hanya membangun revenue.
Mereka membangun komunitas, membuka peluang, dan menciptakan movement. Dan ketika perempuan membangun dengan purpose, yang lahir bukan hanya bisnis — tetapi legacy.
Kutipan By: Farah Devyra
