PIDIE JAYA — Dua kelompok masyarakat di Gampong Lhok Sandeng, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, kini bergerak lebih terkoordinasi dalam menghadapi ancaman bencana. Kelompok Lhok Sandeng Jaya dan kelompok Lhok Pineung mendapatkan penguatan kapasitas melalui Program Mahasiswa Berdampak Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatera Tahun 2026, yang dilaksanakan oleh STMIK Indonesia Banda Aceh dan didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tim dosen dan mahasiswa STMIK Indonesia Banda Aceh berkoordinasi bersama Ketua Kelompok Lhok Sandeng Jaya Hamdani dan Ketua Kelompok Lhok Pineung Muhammad Nadar di Gampong Lhok Sandeng pada tahap awal pelaksanaan program.
Banjir akhir 2025 yang melanda sebagian wilayah Pidie Jaya menjadi titik berangkat kegiatan ini. Saat bencana datang, kedua kelompok sudah bergerak membantu warga — namun tanpa penerangan yang memadai di jalur evakuasi, tanpa sistem peringatan yang bisa diandalkan, dan tanpa prosedur koordinasi yang disepakati bersama. Inisiatif ada, tetapi dukungan teknis belum memadai.
Hamdani, Ketua Kelompok Lhok Sandeng Jaya yang mengepalai 29 anggota, mengungkapkan kondisi yang dihadapi kelompoknya sebelum program ini berjalan.
"Kami sudah terbiasa bergerak saat banjir. Tapi bergerak dalam gelap, tanpa tahu persis kondisi di titik lain, itu yang selalu menyulitkan. Kami butuh alat dan sistem yang bisa membantu kami berkoordinasi lebih baik," ujarnya.
Mahasiswa STMIK Indonesia Banda Aceh bersama anggota kelompok Lhok Sandeng Jaya memasang sistem peringatan dini banjir di titik rawan Gampong Lhok Sandeng dalam Program Mahasiswa Berdampak DPPM Kemdiktisaintek Tahun 2026.
Muhammad Nadar, Ketua Kelompok Lhok Pineung yang beranggotakan 27 orang, menambahkan bahwa keterbatasan penerangan di sejumlah titik gampong menjadi hambatan tersendiri, tidak hanya saat bencana tetapi juga dalam kegiatan masyarakat sehari-hari.
"Banyak warga yang enggan keluar malam karena gelap. Akses ke beberapa bagian gampong jadi terbatas. Kami harap dengan lampu mandiri ini, tidak hanya saat darurat — aktivitas warga sehari-hari pun bisa lebih lancar," kata Muhammad Nadar.
Proses pemasangan lampu jalan bertenaga surya di titik-titik strategis Gampong Lhok Sandeng yang belum terjangkau penerangan, dikerjakan bersama anggota kelompok Lhok Pineung dan mahasiswa STMIK Indonesia Banda Aceh.
Mahasiswa hadir secara bertahap. Tim awal turun lebih dulu untuk berkoordinasi dengan perangkat gampong dan kedua kelompok mitra sebelum kegiatan dimulai. Pemasangan lampu jalan bertenaga surya dan sistem peringatan dini banjir dilakukan di titik-titik yang ditentukan bersama berdasarkan pengalaman warga menghadapi banjir sebelumnya.
Sosialisasi dan pelatihan kesiapsiagaan digelar secara bertahap — dimulai dari pengenalan prosedur dalam kelompok kecil, kemudian berkembang melibatkan warga secara lebih luas. Peta risiko bencana gampong disusun bersama sebagai panduan kerja kedua kelompok ke depan.
Anggota kelompok Lhok Sandeng Jaya dan Lhok Pineung mengikuti pelatihan kesiapsiagaan bencana banjir yang difasilitasi tim dosen dan mahasiswa STMIK Indonesia Banda Aceh dan Berbuka Puasa Bersama.
Di sela kegiatan teknis, mahasiswa turut serta dalam gotong royong sosial bersama warga — membersihkan lingkungan, membenahi area titik kumpul, dan menggelar sosialisasi kesiapsiagaan bersama ibu-ibu PKK. Muhammad Al Kautsar, mahasiswa dari Divisi Informasi dan Teknologi, turut berperan aktif dalam pendampingan teknis pemasangan dan pengoperasian sistem peringatan dini.
Abdus Salam, S.Kom., M.M., dosen anggota tim pelaksana yang mendampingi penguatan kapasitas kedua kelompok, menyebut sinergi antara Lhok Sandeng Jaya dan Lhok Pineung sebagai capaian yang paling berharga dari kegiatan ini.
"Dua kelompok ini sebelumnya bergerak sendiri-sendiri. Sekarang mereka punya prosedur bersama, peta risiko yang sama, dan latihan yang mereka jalani bersama. Itu fondasi yang jauh lebih kuat dari sekadar alat yang kami pasang," ujarnya.
Seluruh hasil kegiatan — lampu jalan, sistem peringatan, perlengkapan evakuasi, hingga prosedur kerja kedua kelompok — diserahkan kepada Pemerintah Gampong Lhok Sandeng untuk dikelola secara mandiri. Kegiatan ini berada di bawah koordinasi Muhammad Wali, ST., M.M. selaku ketua pelaksana, dengan dukungan Ketua LPPM STMIK Indonesia Banda Aceh, Ulfah Irani Z, S.Pd., M.Pd., dan Ketua STMIK Indonesia Banda Aceh, Lukman Ahmad.
Penyerahan aset hasil Program Mahasiswa Berdampak oleh ketua pelaksana Muhammad Wali, ST., M.M. kepada Sekdes Gampong Lhok Sandeng Mursalin, disaksikan Ketua Kelompok Hamdani, Muhammad Nadar, dan perwakilan mahasiswa STMIK Indonesia Banda Aceh.