| Sebuah ilustrasi AI. |
Portal Demokrasi, Opini - Sebagai seorang akademisi dan praktisi kesehatan, saya, dr. Irma Fajriah, yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktoral di Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, memandang isu Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai topik yang sangat penting sekaligus kompleks dalam konteks pembangunan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Program MBG yang saat ini menjadi salah satu perhatian publik tidak dapat dilepaskan dari upaya besar pemerintah dalam menurunkan angka stunting yang masih menjadi tantangan serius. Dari perspektif kesehatan masyarakat, intervensi berbasis pemenuhan gizi memang merupakan salah satu strategi yang relevan dan telah banyak terbukti secara ilmiah mampu mendukung perbaikan status gizi anak. Akses terhadap makanan bergizi sejak usia dini memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, hingga produktivitas di masa depan.
Namun demikian, dalam kacamata akademik dan pengalaman lapangan, saya melihat bahwa persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan satu program saja. Stunting merupakan masalah multidimensi yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pendidikan, pola asuh, sanitasi lingkungan, serta akses terhadap layanan kesehatan. Oleh karena itu, efektivitas MBG sangat bergantung pada sejauh mana program ini mampu terintegrasi dengan intervensi lain yang menyentuh akar permasalahan secara menyeluruh.
Di sisi lain, dalam ruang diskursus publik, muncul pula berbagai pandangan kritis yang mempertanyakan apakah MBG benar-benar dirancang sebagai solusi jangka panjang berbasis bukti ilmiah, atau justru memiliki dimensi lain yang berkaitan dengan kepentingan politik. Pertanyaan ini wajar muncul dalam sistem demokrasi, selama tetap didasarkan pada analisis yang objektif dan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagai peneliti di bidang kesehatan masyarakat, saya memandang bahwa yang paling penting bukanlah sekadar memperdebatkan motif, tetapi bagaimana memastikan implementasi program benar-benar efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Evaluasi berbasis data, transparansi pelaksanaan, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci agar program seperti MBG tidak berhenti pada level kebijakan, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata di masyarakat.
Harapan saya, setiap intervensi
yang dilakukan pemerintah dalam upaya penurunan stunting dapat terus diperkuat
dengan pendekatan ilmiah, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan jangka
panjang generasi bangsa. Dengan demikian, MBG tidak hanya menjadi sebuah
program, tetapi bagian dari gerakan besar menuju Indonesia yang lebih sehat dan
berkualitas.
Selanjutnya Benarkah MBG Solusi Stunting atau Sekadar
Pencitraan Politik?
Stunting masih menjadi salah satu
persoalan serius yang dihadapi Indonesia, dengan dampak jangka panjang terhadap
kualitas sumber daya manusia. Di tengah berbagai upaya pemerintah menekan angka
stunting, hadirnya program MBG (Makan Bergizi Gratis) memunculkan harapan
sekaligus pertanyaan di ruang publik.
Di satu sisi, MBG dipandang
sebagai langkah strategis untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi
yang cukup sejak dini. Program ini dinilai berpotensi memperbaiki pola
konsumsi, menekan angka kekurangan gizi, serta mendukung tumbuh kembang generasi
masa depan. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang mempertanyakan efektivitas
dan keberlanjutan program ini dalam benar-benar menjawab akar masalah stunting
yang kompleks, seperti kemiskinan, pendidikan gizi, sanitasi, dan akses layanan
kesehatan.
Sebagian kalangan juga menilai,
program ini sarat dengan dimensi politik, terutama karena skalanya yang besar
dan gaungnya yang luas di ruang publik. Pertanyaan pun muncul: apakah MBG
benar-benar solusi jangka panjang yang berbasis kebijakan kesehatan masyarakat,
atau justru menjadi bagian dari strategi pencitraan politik menjelang momentum
tertentu?
Perdebatan ini menunjukkan bahwa
isu stunting tidak bisa disederhanakan hanya dengan satu program. Diperlukan
pendekatan yang komprehensif, berkelanjutan, dan berbasis data agar setiap
kebijakan benar-benar menyentuh akar permasalahan.
Pada akhirnya, publik tentu
berharap bahwa setiap program yang diluncurkan bukan hanya menjadi simbol,
tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi masa depan generasi Indonesia. Selanjutnya
Program MBG akan dinilai bukan dari seberapa sering tampil di kamera, tetapi
dari seberapa banyak anak yang tumbuh sehat, cerdas, dan terbebas dari
stunting. Jika manfaatnya nyata, tepat sasaran, dan berkelanjutan, maka
masyarakat akan melihatnya sebagai solusi. Namun jika hanya ramai saat
publikasi tanpa dampak yang jelas, maka publik pun akan menilainya sebagai
sekadar pencitraan politik. Pada akhirnya, keberhasilan program bukan diukur
dari popularitas pemimpin, melainkan dari masa depan generasi bangsa.”
Penulis : dr. Irma Fajriah, M.KM / Ilmu Kesehatan Masyarakat / Universitas Hasanuddin Makassar