Portal Demokrasi, Jakarta - Politeknik STIA LAN Jakarta
menggelar diskusi publik bertajuk “Building Public Leadership” yang
membahas “The Urgency of Establishing a School of Public Policy in Indonesia” dengan menghadirkan Prof. Thomas
Pepinsky, Ph.D dari Universitas Cornell, Amerika Serikat dipandu Moderator
Ratri Istania, Ph.D. Dosen Politeknik STIA LAN Jakarta juga Inaugural Fellow,
Cornell School of Public Policy, 9 Januari 2026. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Direktur
Politeknik STIA LAN Jakarta, Prof. Dr. Nurliah Nurdin, MA. sebagai bentuk
komitmen institusi dalam mendorong penguatan kapasitas kepemimpinan public,
pada Jumat (9/1) bertempat di Ruang Serbaguna Politeknik STIA LAN Jakarta.
Politeknik STIA LAN Jakarta menggelar diskusi publik bertajuk “Building Public Leadership”. (Foto: Dok/Ist).
Dalam sambutannya,
Prof. Nurliah menjelaskan saat ini kita memasuki tahun 2026, Indonesia dan
bahkan dunia berada di persimpangan jalan yang menentukan. Kita hidup di era di
mana kemerdekaan formal tidak lagi menjamin kedaulatan yang sebenarnya di mana
lembaga-lembaga publik semakin berisiko melayani kepentingan elit daripada
kepentingan umum, dan bahasa kemanusiaan seringkali direduksi menjadi retorika
diplomatik, bahkan ketika kekerasan, pendudukan, dan genosida terjadi di depan
mata kita, disiarkan setiap hari namun tidak ditindaklanjuti secara memadai.
“Ini bukan sekadar
krisis politik. Ini adalah krisis administrasi publik dan kebijakan publik.
Secara global, bukti menunjukkan bahwa ketika kepemimpinan lemah atau dikuasai,
administrasi publik menjadi instrumen konsolidasi elit daripada pelayanan publik,”
ujarnya.
Prof. Nurliah
menambahkan secara global, bukti menunjukkan bahwa ketika kepemimpinan lemah
atau dikuasai, administrasi publik menjadi instrumen konsolidasi elit daripada
pelayanan publik. Menurut Oxfam, 1% orang terkaya mengendalikan hampir setengah
dari kekayaan global, sementara sistem publik; pendidikan, kesehatan,
perlindungan sosial, tetap kekurangan dana atau salah arah di banyak negara.
Bank Dunia memperingatkan bahwa penguasaan kebijakan dan kemampuan birokrasi
yang lemah merupakan salah satu prediktor terkuat dari ketidaksetaraan yang
terus-menerus dan terjadinya erosi demokrasi.
Lebih lanjut Prof.
Nurliah menyoroti sekolah kebijakan publik tidak boleh hanya berfungsi sebagai
ruang debat untuk keadilan sosial, atau sebagai pabrik makalah kebijakan yang
berakhir di rak-rak perpustakaan. Keadilan sosial yang hanya ada dalam
publikasi itu rapuh. Yang dibutuhkan Indonesia dan dunia secara mendesak adalah
kepemimpinan publik yang lahir dari pendidikan kebijakan dan terbukti dalam
tindakan.
“Kepemimpinan
publik tidak muncul secara otomatis dari birokrasi. Hal ini dibangun melalui
pelatihan kebijakan yang ketat, pembentukan etika, dan paparan terhadap
dinamika kekuasaan yang nyata, di mana keputusan memiliki konsekuensi bagi
hutan, sungai, garis pantai, dan kehidupan manusia. Tanpa ini,
administrasi publik berisiko menjadi prosedural, diam, atau lebih buruk lagi,
terlibat,” tegasnya.
Lembaga
Administrasi Negara (LAN) telah lama menjadi tulang punggung pengembangan kompetensi
Pegawai Negeri Sipil Indonesia dengan memperkuat profesionalisme, integritas,
dan kompetensi administrasi. Namun disadari sebuah kenyataan pahit, tata kelola
modern membutuhkan lebih dari sekadar administrator yang baik, tetapi juga
arsitek kebijakan strategis.
Di seluruh
dunia, banyak negara telah menanggapi tantangan ini dengan mengembangkan sekolah
kebijakan publik, lembaga yang dirancang bukan untuk menggantikan administrasi publik,
tetapi untuk melengkapinya, menjembatani teori dan praktik, data dan penilaian,
kepentingan nasional dan tanggung jawab global.
Sementera itu Prof.
Thomas Pepinsky, Professor of Government and Public Policy dari Cornell University,
sebagai pembicara utama menyampaikan bahwa Indonesia tengah berada pada fase
krusial pembangunan yang membutuhkan kebijakan publik berkualitas tinggi dan
kepemimpinan sektor publik yang visioner. Menurutnya, kompleksitas persoalan
publik saat ini—mulai dari ketimpangan ekonomi, desentralisasi pemerintahan,
dinamika politik elektoral, hingga tantangan global seperti perubahan iklim dan
transformasi digital menuntut kapasitas analisis kebijakan yang kuat dan
berbasis riset.
“Banyak negara dengan tata kelola pemerintahan yang baik berinvestasi
besar pada pendidikan kebijakan publik. School
of Public Policy bukan sekadar institusi akademik, tetapi pusat
pengembangan kepemimpinan, analisis kebijakan, dan etika publik,” ujar Prof.
Pepinsky.
Ia menambahkan bahwa sekolah kebijakan publik memiliki peran strategis
dalam menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan praktik pemerintahan.
Melalui pendekatan multidisipliner, lembaga ini dapat membekali calon pemimpin
publik dengan kemampuan analisis data, perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy),
serta keterampilan komunikasi dan negosiasi politik.
Prof. Pepinsky juga menyoroti pentingnya konteks lokal dalam
pengembangan kebijakan publik di Indonesia. Dengan sistem demokrasi yang besar
dan beragam, Indonesia membutuhkan institusi pendidikan yang mampu menghasilkan
analis kebijakan dan pemimpin publik yang memahami dinamika sosial, budaya, dan
politik di tingkat nasional maupun daerah. “Kebijakan yang baik harus lahir
dari pemahaman mendalam terhadap masyarakat yang dilayani,” tegasnya.
Diskusi ini turut membahas kondisi birokrasi dan kepemimpinan publik di
Indonesia yang masih menghadapi tantangan kapasitas dan koordinasi lintas
sektor. Tanpa sumber daya manusia yang terlatih secara khusus di bidang
kebijakan publik, berbagai program pembangunan berisiko tidak berjalan efektif
atau berkelanjutan. Oleh karena itu, pendirian School of Public Policy dipandang
sebagai investasi jangka panjang dalam memperkuat kualitas demokrasi dan tata
kelola pemerintahan.
Selain itu, forum ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara
perguruan tinggi, pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil dalam
membangun ekosistem kepemimpinan publik. School
of Public Policy diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan,
tetapi juga wadah riset kebijakan, advokasi berbasis data, serta ruang dialog
antara pembuat kebijakan dan publik.
Diskusi publik Building Public Leadership
diikuti oleh ratusan peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, praktisi
kebijakan, analis kebijakan, serta pemerhati isu pemerintahan. Pelaksanaan
diskusi publik dilaksanakan secara blended (daring dan luring). Para peserta antusias
berdiskusi dan mengajukan pertanyaan yang cukup tajam terkait isu kebijakan
publik global seperti sepak terjang Presiden Trump di Venezuela, peran kebijakan publik dalam meningkatkan profesionalisme kepemimpinan
sipil, termasuk tentang strategi sekolah kebijakan publik dalam memperkuat
kepemimpinan publik, tata kelola etis, dan isu kebijakan publik lainnya.
Melalui diskusi ini, diharapkan muncul kesadaran kolektif dan langkah konkrit untuk mendorong pendirian serta penguatan School of Public Policy di Indonesia sebagai fondasi dalam mencetak pemimpin publik yang berintegritas, kompeten, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.